Cerpen Diriku
Berawal ketika matahari terbit begitu menyilaukan, aku terpekur di
depan cermin dengan sisir di tangan. Terdiam membisu mengamati bayangan
yang kian tua dan tumbuh. Teringat olehku kejadian seminggu yang lalu,
ketika pesta perpisahan sma digelar. Riuh rendah suara tawa, bising dan
higar bingar musik ini memekakkan telingaku namun apa mau dikata, ini
adalah acara terakhirku bersama temanku jadi mau tak mau aku harus
menikmatinya – setidaknya berpura-pura menikmati.
“key? Kenapa bengong? Ringgo sudah menunggu di depan.” ibu menepuk pundakku sekali, membuat lamunanku buyar berantakan.
“iya bu, aku selesaikan dulu menyisirnya. Biarkan saja perjaka tua itu menunggu.” ucapku asal.
Dengan tampang kecut ibu beranjak dari sisiku, ia terlihat tak suka akan
komentarku tapi tak jua mengatakannya. Aku tau, ibu bukan orang yang
gemar mengajakku ribut, tidak seperti ayah, yang selalu punya alasan
untuk menentang setiap kata yang ku ucapkan.
Lambat kuselesaikan kegiatanku di depan cermin lalu menggiring
tubuhku menuju ruang tamu, sepasang mata mengamati kedatanganku. Mata
itu mata teman sdku yang beranjak dewasa tanpa ku tahu perkembangannya.
“sudah lama?” tanyaku basa-basi
“tidak, baru saja aku datang.” dia terlihat kikuk, tapi juga terlihat buas bagiku.
“kalau begitu ada apa? Aku tak ingin membuang waktumu yang sangat
berharga, jadi aku pikir seorang anak juragan perkebunan tidak akan mau
membuang waktunya hanya untuk berbasa-basi di rumah teman lamanya
bukan?” ujarku sarkastik. Haha, tawaku tertahan melihat pria yang
kumisnya baru tumbuh itu gelisah. Aku melihatnya meremas remas tangannya
sendiri dan mulutnya terkatup lalu terbuka, persis ikan salmon.
“kata bapak, kita dijodohkan dan kupikir aku harus menemuimu untuk
membahas ini. Aku tidak mau dijodohkan begitu saja key, aku mau yang
jadi istriku kelak adalah wanita yang mencintaiku”
Wah, aku tak menyangka ia bisa melancarkan kata-kata seperti itu. Sungguh tidak!
“lalu, apa kamu mau dijodohkan denganku key? Apa kamu cinta?”
“yaa! Aku cinta. Tapi bukan padamu, melainkan pada bapak ibuku yang
ayahmu rentenirkan hutangnya menjadi berjuta-juta. Dan aku cinta pada
teman sma ku yang kau caci penampilannya di malam perpisahan sma
kemarin. Dan kau tahu, aku juga cinta pada nisan kakakku yang tanahnya
belum kering jua, ia mati karena kepatuhannya kepada ayahmu yang tega
menyuruhnya mencari seekor kambing yang tak pernah hilang.”
“tapi key, aku tak pernah menyuruh mereka melakukan itu. Itu salah bapakku, bukan salahku”
“terlambat, aku sudah berpikir bahwa itu salahmu juga. Dan aku tak mau
menikah dengan anak rentenir busuk yang mempermainkan keluargaku.
Habiskan teh mu, lalu pergilah dengan tenang!”
Ya! Begitu ia menghabiskan tehnya, ia pergi. Saat tubuhnya mencapai
pagar rumah kami, aku melihatnya tersungkur dengan mulut berbusa.
Beberapa warga menyemut dan berteriak, ibuku ikut berteriak, aku
mendekat memeluk bapak dengan rasa puas. Tak lama setelahnya ambulans
datang dengan denging yang tak ku suka. Suara itu mengingatkanku ketika
abang dibawa dengan badan membiru dan menggigil dan pulang tanpa nyawa.
Aku tak sengaja memasukkan segumpal obat itu ke dalam tehnya ketika
dia sedang tak melihat. Memang bukan salahnya, tapi ayahnya harus
merasakan apa yang bapak rasakan. Aku tak akan menyesal melakukannya
meski tubuhku terkurung di balik jeruji besi yang dingin, setidaknya
disini tak ada suara bising yang menggangguku.